OLEH Dr. Indra Refipal Sembiring, SE, MM (Dosen Departemen Manajemen FEM IPB)

Tahun baru, harapan baru. Sebagian besar orang akan membuat resolusi baru untuk menjadi lebih baik setiap tahun, setidaknya lebih baik dari tahun sebelumnya. Demikian halnya dengan 70 persen dari penduduk Indonesia yang berada dalam rentang angkatan kerja.

Untuk karyawan yang berada di kategori bukan pengangguran (tidak termasuk dalam 7,8 juta orang pengangguran berdasarkan BPS 2023), tahun baru menjejakkan harapan untuk dapat menjadi tenaga kerja yang lebih produktif dan kompetitif.

Harapan di dunia kerja ini tentunya menjadi bagian dari harapan besar bangsa Indonesia untuk menyambut Indonesia Emas 2045. Di ulang tahun ke-100 nantinya, Indonesia diharapkan berada dalam tahun keemasan lewat optimalisasi kinerja produktif dan kompetitif dari angkatan kerja produktif.

Pada 2045, jumlah penduduk Indonesia diperkirakan akan mencapai 319 juta jiwa. Dari jumlah tersebut, 223 juta jiwa atau sekitar 70 persen penduduk Indonesia masuk dalam kelas pendapatan menengah. Tingkat harapan hidup penduduk Indonesia pada 2045 akan meningkat menjadi 76 tahun dan sekitar 73 persen penduduk Indonesia akan tinggal di wilayah perkotaan.

photo

Selanjutnya, tingkat kecerdasan bangsa juga akan meningkat pula. Semuanya didasarkan pada asumsi Bonus Demografi benar-benar dapat dicapai, dan bukan sebagai beban demografi.

Bonus demografi yang berdampak positif akan mengantarkan Indonesia menjadi negara maju dengan kemampuan ekonomi yang meningkat, ditunjang rendahnya tingkat pengangguran, serta meningkatnya keterlibatan penduduk usia produktif yang kreatif dan inovatif dalam pembangunan. Bonus demografi ini juga dapat menciptakan peluang positif yang dapat meningkatkan produk domestik bruto (PDB), meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan meningkatkan kualitas hidup manusia serta mempercepat pembangunan nasional. Tentu saja, jika tenaga kerja yang besar tersebut memiliki kualitas dan produktivitas yang tinggi.

Berkaca dari antisipasi bonus demografi yang juga menjadi harapan di masa depan Indonesia Emas, maka kesadaran bahwa Indonesia memiliki waktu sekitar 21 tahun untuk mencapainya haruslah dengan usaha menghadapi tantangan-tantangan dunia kerja. Berdasarkan Indonesia Employment Outlook 2023, Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) menjelaskan tantangan terbesar yang harus diselesaikan dengan urgensi yang tinggi adalah peningkatan produktivitas dan daya saing tenaga kerja. Hal ini menjadi penting dalam bagian dari perbaikan pasca Covid-19 dan semakin meningkatnya persaingan global.

Sebagai tambahan, peningkatan kualitas tenaga kerja ini juga menjadi penting untuk mendapatkan keunggulan dari bonus demografi. Strategi yang dapat dilakukan adalah dengan memperkuat pelatihan yang diselenggarakan institusi pendidikan non-formal seperti apa yang diatur dalam program Kartu Prakerja, selain itu tentu dapat dilakukan dari Balai Latihan Kerja dan Lembaga Pelatihan kerja.

Laporan terkini dalam Outlook 2024 yang dikeluarkan Kemenaker RI menunjukkan pasar tenaga kerja Indonesia di 2024 diharapkan berada dalam tren yang positif. Lebih dari 212 juta populasi dalam usia kerja ada di tahun 2024, yang berarti terjadi pertumbuhan tahunan rata-rata sebesar 0,98 persen. Dari jumlah tersebut sampai bulan Agustus 2024, diperkirakan sekitar 145 juta jiwa akan menjadi pekerja (95,26 persen). Sementara, sekitar 7,22 juta jiwa diprediksi akan menjadi pengangguran.

Lalu, bagaimana harapan dari jutaan tenaga kerja ini dapat menjadi bonus demografi yang dapat dimulai sekarang? Apakah keterampilan yang harus ditingkatkan oleh para Angkatan kerja ini?

Blanchard sebagai lembaga konsultan terkemuka di dunia untuk pengembangan dan pelatihan menyampaikan lima tujuan sumber daya manusia (SDM) di tahun 2024. Pertama, mengembangkan kekuatan bangku kepemimpinan. Kedua, mempertahankan karyawan yang berkinerja tinggi. Ketiga, menarik pekerja dengan keterampilan yang kita perlukan. Keempat, memungkinkan inovasi dan perubahan. Kelima, memberikan pengalaman karyawan yang luar biasa.

Selain dari tujuan-tujuan tersebut, Blanchard mengidentifikasi isu-isu yang akan banyak mendapatkan perhatian di 2024. Dua di antaranya adalah Pengembangan Kepemimpinan dan Artificial Intelligence (AI). Dari tujuan dan isu khusus ini, Blanchard melakukan survei terhadap 1026 responden dari 20 industri dan 80 negara dalam Blanchard’s 2024 HR/L&D Trends Survey.

Survey ini melibatkan semua level dalam organisasi mulai dari administrasi hingga level C-Suite. Dalam aspek kepemimpinan, survei tersebut menekankan pada kompetensi yang harus dimiliki pemimpin untuk menjadi sukses yaitu menarik dan mengembangkan talenta, memimpin dan mendukung inisiatif perubahan melakukan coaching lewat tantangan-tantangan kepada karyawan, komunikasi yang jelas, dan mendorong inovasi.

photo

Terkait hal itu, responden mengharapkan pemimpin sebagai mitra level pertama untuk menciptakan organisasi yang kuat dan vibrant. Hal ini sejalan dengan apa yang disampaikan oleh Coursera (dalam The State of Job Skills in 2024) dan Udemy (dalam 2024 Global Learning and Skills Trends Report).

Sementara itu, lembaga pelatihan dan pengembangan Coursera menjelaskan bahwa prioritas pertumbuhan utama adalah keterampilan kepemimpinan untuk mendukung tim menghadapi perubahan. Dalam laporan tahunan Coursera, kepemimpinan menjadi tren yang meningkat di tahun 2024 dibanding tahun sebelumnya.

Adanya perubahan makroekonomi yang cepat dan munculnya teknologi (seperti artificial intelligence/AI) menjadi pemicu kebutuhan kepemimpinan yang berbeda. Kepemimpinan yang mendorong keterampilan pemimpin dalam meningkatkan fokus mereka dalam memimpin tim dengan empati, pembangunan tim (team building), dan pengelolaan tim (team management).

Pemimpin di masa depan diharapkan mampu memastikan sejalannya antara apa yang dilakukan karyawan dengan tujuan bisnis. Dari survei terbaru yang dilakukan Coursera, para pemimpin memeringkat bisnis (52 persen) dan kemampuan mengelola manusia (46 persen) sebagai prioritas utama mereka untuk program pembelajaran dan pengembangan.

Hal tersebut mencakup keterampilan kritis seperti project management, kepemimpinan, adaptabilitas, dan agility (kemampuan beradaptasi). Mereka meyakini, dengan keterampilan ini akan dapat membantu organisasi untuk menghadapi tantangan-tantangan bisnis, dan mempertahankan talenta di pasar tenaga kerja yang selalu bergerak/volatile.

Sejalan dengan dua lembaga tersebut, Udemy lebih lanjut menjelaskan bahwa organisasi haruslah berinvestasi pada pemimpin-pemimpinnya dan demikian halnya pemimpinnya terhadap tim mereka. Hal ini akan membantu mereka untuk menavigasi perubahan-perubahan sambil tetap produktif dan menghindari mental and physical burnout.

Udemy menekankan pada empat keterampilan. Pertama, connecting (keterhubungan) yang menekankan pada keterampilan interpersonal dan emosional termasuk empati, compassion, dan self awareness. Kedua, coaching, sebagai keterampilan melakukan coach dan feedback yang efektif.

Ketiga, creating and inclusive culture dengan menjaga lingkungan yang mendukung inklusivitas. Keempat, collaborating through technology, yaitu menggunakan teknologi untuk terhubung dan berkolaborasi.

Dalam aspek teknologi, terlihat jelas bahwa ketiga lembaga pengembangan SDM ini menekankan pada tren penggunaan AI atau kecerdasan buatan. Blanchard dalam surveinya menjelaskan bahwa 27 persen responden mengindikasikan bahwa AI akan berdampak pada segala aspek SDM dan pembelajaran dan pengembangan.

Sejumlah 91 persen dari responden mereka pun berencana akan menggunakan teknologi AI lebih banyak lagi, bahkan yang tidak menggunakan AI saat ini akan memulai menggunakannya pada tahun 2024. Tentunya hal ini terkait dengan peningkatan kualitas SDM. Para responden ini menjelaskan bahwa ketertarikan terhadap AI adalah untuk membantu dalam pengembangan karier dengan menganalisis kemampuan karyawan dan menawarkan saran untuk pengembangan keterampilan apa yang diperlukan, dan dalam pengelolaan kinerja dengan menganalisis data karyawan dan menyediakan catatan-catatan kepada manager.

Sementara itu, Coursera menjelaskan bahwa di tahun 2024, keterampilan dalam teknologi menjadi tidak kalah penting dari kepemimpinan. Peningkatan penggunaan AI akan berlanjut yang diikuti oleh kebutuhan percepatan penguasaan teknologi ini.

photo

Semua institusi dan perusahaan yang mengusahakan produktivitas dan daya saing yang lebih besar, akan mencari AI specialist mulai dari engineer sampai kepada pemodelan bahasa yang ahli. Lebih lanjut lagi, kebutuhan keterampilan dalam teknologi adalah tuntutan dari semakin besarnya risiko keamanan siber, sehingga kebutuhan tenaga terampil untuk memastikan data dilindungi, aman, dan memenuhi nilai-nilai kepatuhan.

Menurut Jeff Maggioncalda, CEO Coursera, terdapat hingga 49 persen karyawan melihat perubahan signifikan dalam pekerjaan mereka ketika menggunakan teknologi AI seperti ChatGPT. Jika penerapan dan keterampilan ini dilakukan dengan serius, maka akan berkontribusi pada produktivitas ekonomi global sebesar 4,4 triliun dolar AS. Hal inilah yang kemudian menjadi referensi untuk mengembangkan keterampilan dan inovasi menjadi lebih strategis.

Udemy pun mengamini kebutuhan keterampilan ini. Kebutuhannya akan semakin besar dan jika tidak dilakukan dengan fokus maka di tahun 2030 akan terdapat kekurangan talenta lebih dari 85 juta orang di seluruh dunia. Satu-satunya cara adalah untuk meningkatkan keterampilan atau mengubah keterampilan dengan memperluas cakupannya dalam program pengembangan karyawan.

Keterampilan kepemimpinan dan penguasaan teknologi AI ini nyatanya juga menjadi agenda Kemenaker. Kemenaker (2023) telah memproyeksikan bahwa pasar penguasaan teknologi semisal otomatisasi proses robotic akan tumbuh sebesar 32 persen di Asia Pasifik dalam rentang 2020-2025.

Sejumlah negara maju telah memfokuskan lebih banyak lagi pada penggunaan teknologi. Hal ini tentu mengubah lanskap pasar tenaga kerja. Tidak ayal lagi, Kemenaker menjadikan tantangan terhadap penggunaan AI ini menjadi isu kunci dalam Outlook 2024, dan karenanya menjadikannya agenda dalam pengembangan generasi kerja untuk memperoleh akses pendidikan formal dan informal dengan menyambungkan kebutuhan dunia kerja dan karyawan.
Hal ini tentu dapat memberdayakan para pencari kerja dengan memiliki pelatihan dan sertifikasi kompetensi yang sesuai dengan standar global.

Dari kajian tersebut, semakin jelas bahwa harapan untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045, akan banyak bertumpu pada bonus demografi. Bonus demografi haruslah membantu pencapaian peningkatan produktivitas dan daya saing tenaga kerja Indonesia. Karena hal itulah yang menjadi rumus utama peningkatan pendapatan negara kita.

Dengan senantiasa berbenah dan menelaah resolusi dunia kerja setiap tahunnya, pencapaian tujuan Indonesia Emas 2045 tentu akan dapat diraih bersama. Untuk tahun ini, tentu setiap pemangku kepentingan termasuk pemerintah dan tenaga kerja, perlu meningkatkan keterampilan kepemimpinan dan penerapannya untuk juga meningkatkan penguasaan teknologi seperti AI.

Mengutip apa yang disampaikan Karim Lakhani (profesor di Harvard Business School), “AI won’t replace humans, but humans with AI will replace humans without AI”. Jadi, apa resolusi kerja Anda di 2024?

Related Posts